Seminar Nasional bertajuk “Pikiran dan Nilai Kearifan Lokal Orang Sunda dalam Lintasan Sejarah dan Politik”

Upaya mengembangkan jati diri Ki Sunda, Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandung menggelar Seminar Nasional bertajuk “Pikiran dan Nilai Kearifan Lokal Orang Sunda dalam Lintasan Sejarah dan Politik” dengan menghadirkan narasumber: H. Dadang Nasser, S.H., S.IP. (Bupati Kabupaten Bandung), Prof. Dr. H. Dr. Fachry Ali, MA (Cendekiawan Muslim), yang dipandu oleh Suparman, M.Ag. (Sekretaris Jurusan SPI) di Aula Abjan Soelaeman, Selasa (1/11).

Acara seminar nasional yang diikuti sekitar 500 mahasiswa jurusan SPI ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FAH, Dr. Ading Kusdiana, M.Ag.Dalam sambutanya WD I FAH, menjelaskan kegiatan seminar ini sebagai salah satu cara untuk pengembangan budaya Sunda. “Islam itu identik dengan Sunda dan Sunda pun identik dengan Islam. Karena banyak kemiripan dan persamaan antara Sunda dengan Islam yang akhirnya tidak bertentangan, tapi saling mengisi dan melengkapi,” tegasnya.

Meskipun dalam catatan sejarahnya, persentuhan budaya Islam dengan tradisi lokal terus terjadi dan tak bisa dipisahkan. “Budaya Islam itu tidak identik dengan Arab, karena kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh budaya lokal setempat. Begitu pula kehadiran Islam di Indonesia yang terjadi justru perpaduan Islam dengan budaya lokal itu melahirkan akulturasi dan asimilasi,” jelasnya.

Dengan adanya kegiatan ini, WD I FAH, berharap untuk wilayah Jawa Barat kehadiran Islam ini dapat mengembangkan dan mempertegas identitas budaya Sunda. “Saya berharap dengan adanya acara Seminar ini dapat memberikan wawasan budaya Islam di kalangan dosen dan mahasiswa serta ikut andil dalam pengembangan budaya Sunda sebagai identitas muslim,” opimisnya.

Menurut Ketua Jurusan SPI, Samsudin, M.Ag. menuturkan ketidakhadiran tokoh nasional dari kalangan Sunda menjadi tanda atas kehilangan jati diri Sunda. “Sunda itu salah satu suku terbesar di Indonesia, tapi kenapa miskin tokoh dari Sunda?”, keluhnya.

Melalui seminar ini Kajur SPI berharap kita dapat melahirkan tokoh nasional dari orang Sunda. “Jika kita membaca sejarah Sunda, maka dapat dipastikan terlahir tokoh-tokoh dari Sunda, seperti Kang Emil, Kang Dedi yang hari ini manggung dan kita dorong untuk tampil di pentas nasional”, paparnya.

Untuk menjadikan budaya Sunda sebagai identitas, kata Bupati Bandung, “dengan menjadikan sabilulungan sebagai karakter dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat ini”, tegasnya.

Usah menangkal derasnya pengaruh budaya asing di tengah-tengah kehidupan ini melalui raksa desa. “Kehadiran raksa desa, jaga lembur untuk menjaga dari pengaruh peradaban asing. Oleh karena itu, sabilulungan sebagai spirit Kabupaten Bandung harus mempu mencetak warga yang maju, mandiri dan berdaya guna atas keterbelakangan dan kebodohan”, sambungnya.

Tentunya, dalam membina desa ini diperlukan kerjasama dengan perguruan tinggi, organisasi kemasyarakat untuk menjadikan warga yang maju, mandiri dan berdaya guna. “Kerjasama dengan UIN SGD menjadi penting dalam memberantas buta huruf melek Al-Quran dengan melibatkan dosen, mahasiswa dalam membina desa,” jelasnya.

Bagi Fachry Ali pengembangkan identitas Sunda itu harus dimulai dengan menengok ke belakang untuk menyongsong masa depan. “Problem Sunda-Jawa dalam cerita perang bubat bagi Sukron itu tidak ada persoalan antara Sunda dengan Jawa. Ketidak hadiran jalan Majapahit, Gajah Madja, Hayam Wuruk di Sunda itu bukti atas kuatnya motivasi politik dalam menentukan jalan. Hadirnya jalan Dipatiukur menjadi pemberontokan terhadap sejarah”, tegasnya.

“Oleh karena itu, menengok ke belakang menjadi penting untuk menatap masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. [Humas Al-Jamiah]

Spread the word. Share this post!

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *