Bedah Buku “Kota di Jawa Tempo Doeloe”

Foto Sejarah Peradaban Islam Spi.Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandung, Dr. Setia Gumilar, M.Si. membuka secara resmi Bedah Buku “Kota di Jawa Tempo Doeloe” karya Oliver Johannes Raap, penulis asal Belanda yang diselenggarakan oleh BMJ Sejarah Peradaban Islam di Aula FAH lantai IV, Senin 28 September 2015

Dalam sambutanya Dekan sangat mengapresiasi kegiatan yang digelar oleh BMJ SPI ini untuk menumbuhkan budaya dan atmosfir akademik, khususnya tentang sejarah kota tempo dulu. “Kegiatan akademik menjadi program unggulan saya. Mengingat peminat sejarah kota-kota tempo dulu ini sangat minim. Oleh karena itu, dengan adanya bedah buku ini diharapkan bisa memberikan stimulus kepada kita supaya menjadi pengkaji sejarah,” tegasanya.

Paling tidak jadilah pengkaji sejarah untuk kota kelahirannya. “Olivier yang bukan lulusan sejarah, tapi arsitektur mampu menghadirkan Kota Tempo Doeloe melalui prangko. Kita yang belajar sejarah, minimal untuk skripsi kita bisa menuliskan sejarah kota kelahiranya,” pesannya.

Untuk penulisan buku Kota Tempo Doeloe ini “Saya sangat mengapresiasi atas kehadiran buku ini. Meskipun dalam penulisanya tidak berdasarkan pendekatan histrografi desktiftis-analisis, tapi melalui pendekatan periodik tematik. Untuk itu, saya berharap dengan adanya bedah buku ini dapat memberikan rangsangan, wawasan kepada kita untuk menuliskan sejarah. Mari kita menuliskan sejarah kota kelahiran untuk mengenal dan menghargai arti penting kota kelahiran tersebut,” optimisnya.

Bagi Dr. Ading Kusdiana, M.Ag., Ketua Jurusan SPI kajian kota-kota tempo dulu itu memang kurang diminati. “Mudah-mudahan ini menjadi peluang bagi kita, lulusan SPI supaya bisa menangkap kesempatan yang baik dan menjadi tantangan bagi kita dalam menyiapkan mahasiswa yang handal dalam pengkajian sejarah kota-kota,” terangnya.

Buku Kota Tempo Doeloe ini menyajikan sejarah kota-kota di Pulau Jawa. Sebanyak 277 lembar kartu pos koleksi penulis akan membawa pembaca pada sejarah 44 kota yang terletak di ujung barat hingga ujung timur Jawa. Pemandangan kota yang indah, unsur pembentuk kota berikut struktur dan sejarahnya, serta toponimi suatu kota diceritakan dengan lugas dan jernih dalam buku ini. Membaca jejak-jejak lama lewat kartu pos dalam buku ini, bukan tak mungkin kita bakal membuka narasi baru suatu kota.

Masa sekitar pergantian abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 merupakan zaman emas untuk kartu pos. Demikian juga yang terjadi di Nusantara. Pada masa itu, saat telepon masih belum umum digunakan atau dianggap terlalu mahal, kartu pos merupakan media korespondensi terpenting untuk kalangan yang bisa baca tulis. Banyak penerbit swasta mengedarkan beraneka macam kartu pos bergambar yang menarik, sesuai dengan keinginan para pelanggan. Menariknya, bukan sekadar media korespondensi dalam dan luar negeri, kartu pos sering memberikan gambaran dari suatu zaman yang luput dari perhatian media lain.

Melihat kenangan dan sejarah masa lalu dari kartu pos dengan lebih menarik dan lebih puitis lengkap dengan visi dan misinya. Itulah isi dari buku hasil karya Olivier Johannes Raap yang menggunakan kartu pos kuno dari koleksi penulis sebagai ilustrasi.

Bagi penulis asal Belanda ini, zaman yang disebut “Tempo Doeloe” di Pulau Jawa masih belum habis untuk dieksplorasi. Karena buku “Kota di Djawa Tempo Doeloe” ini merupakan lanjutan dari buku “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” dan “Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe” yang keduanya diterbitkan pada 2013.(https://uinsgd.ac.id)

Spread the word. Share this post!

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *